PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAN

04/12/2010 09:04

 

1.   Pembentukan BPUPKI

 

Pada tahun 1944 Saipan jatuh ke tangan Sekutu. Demikian juga dengan Papua Nigini, Kep. Solomon, Kep. Marshall, dan seluruh garis pertahanan Jepang di Asia Psifik. Selanjutnya Jepang mengalami serangan udara di Kota Ambon, Makasar, dan Surabaya bahkan tentara sekutu telah mendarat di daerah-daerah penghasil minyak seperti Tarakan dan Balikpapan. Kekalahan Jepang semakin terlihat ketika Kota Nagasaki dan Kota Hiroshima dobom oleh Sekutu dan memaksa Jepang untuk mengalah pada perang dunia II.

 

Sehingga pada tanggal 1 Juni Jendral Kumakhichi Harada mengumumkan pembentukan suatu badan khusus yang bertugas untuk mempersiapkan dan mempelajari hal-hal penting mengenai masalah tata pemerintahan Indonesia Merdeka, badan ini diberi nama Dokoritsu Jumbi Chosokai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha KEmerdekaan Indonesi (BPUPKI). Badan ini berjumlah 60 orang bangsa Indonesia dan 7 orang bangsa Jepang (Tidak mempunyai suara). Pengangkatan pengurus ini diumumkan pada tanggal 29 April 1945 dan ditunjuk sebagai ketuanya adalah Dr. K.R.T Radjiman Wediodiningrat (Keico) dan yang duduk sebagai ketua muda adalah Icibangase (Fuku Kaico), sebagai kepala sekertarisnya adalah R.P Suroso dan dibantu oleh Toyohito Matsuada dan A.G Pringgodigdo. Pada tanggal 28 Mei 1945 BPUPKI diresmikan di gedung Chuo Sang In jalan Pejambon (Jakarta) yang sekarang menjadi tempat Departemen Luar Negri. Peresmian tersebutv didatangi oleh seluruh anggota dan 2 orang pejabat tinggi militer Jepang.

 

Sidang pertama BPUPKI dilakukan pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945 dalam siding ini dibahas tentang dasar filasafat Negara Indonesia Merdeka, tokoh-tokoh yang mengusulkan Dasar Negara itu diantaranya:

a.          M. Yamin (29 Mei 1945)

1)   Peri Kebangsaan

2)   Peri Kemanusiaan

3)   Peri Ke-Tuhanan

4)   Peri Kerakyatan

5)   Kesejahtraan Rakyat

b.         Prof. Dr. Soepomo (31 Mei 1945)

1)    Persatuan

2)    Kekeluargaan

3)    Keseimbangan

4)    Musyawarah

5)    Keadilan Sosial

c.       Ir. Soekarno ( 1 Juni 1945)

1)           1)     Kebangsaan Indonesia

2)           2)     Internasionalisasi atau Peri-kemanusiaan

3)           3)      Mufakat atau Demokrasi

4)           4)      Kesejahtraan Sosial

5)           5)      Ke-Tuhanan Yang Maha Esa

 

Pada tanggal 10 Juni 1945 dibahas Rancangan Undangan-Undang Dasar, termasuk soal pembukaan UUD. Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno dan beranggotakan 21orang. Pada tanggal 11 Juli 1945 dengan suara bulat menyetujui isi yang diambil dari Piagam Jakarta. Panitia tersut mebntuk panitia kecil yang diketuai Prof. Dr. Mr Soepomo dengan anggotanya Mr. Wongsonegoro, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. A.A Maramis, Mr. R.p Singgih, K.H. Agus Salim, dan Sukiman. Hasil perumusan penitia kecil ini kemudian disempurnakan bahasanya oleh Panitia Penghalus Bahasa yang terdiri dari Husein Djajadiningrat, H. Agus Salim, dan Prof.Dr.Mr Soepomo.

Sidang kedua BPUPKI dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 1945, dalam rangka meneriam laporan PPUUD. Ir. Soekarno selaku ketua panitia melaporkan tiga hasil, yaitu:

 

1)      Pernyataan Indonesia Merdeka

2)      Pembukaan Undang-undang Dasar

3)      Undang-undang dasar

2.     Reaksi Golongan Muda

 

a.      Kongres Pemuda Seluruh Jawa

Pada tanggal 16 Mei 1945 di Bandung telah diadakan Kongres pemuda Seluruh Jawa yang diprakrarsai Angkatan Moeda Indonesia. Organisasi tersebut diprakarsai oleh Jepang namun berkembang jadi suatu pergerakan pemuda yang anti Jepang, kongres tersebut dihadiri oleh lebih 100 utusan pemuda, pelajar, dan mahasiswa selauruh Jawa, diantaranya Djamal Ali, chaerul saleh, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto serta sejumlah mahasiswa Ika Daigaku Jakarta. Setelah tiga hari kongres berlangsung, akhirnya diputuskan dua buah resolusi, yaitu sebagai berikut:

1)      Semua golongan Indonesia, terutama golongan pemuda dipersatukan dan dibulatkan di bawah satu pimpinan nasional.

2)      Dipercepatnya plaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia.

 

b.      Pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia

Pernyataan pada Kongres Pemuda Seluruh Jawa tidak memuaskan beberapa tokoh pemuda sehingga Pada tanggal 3 Juni 1945 diadakan suatu pertemuan rahasia di Jakarta untuk membentuk suat panitia khusus yang diketuai oleh B.M. Diah, dengan anggotanya Sukarni, Sudiro, Sjarif Thajeb, Harsono Tjokroaminoto, Wikana, Chairul Saleh, P. Gultom, Soepomo, dan Asrama Hadi.

Pada tanggal 15 juni 1945diadakan lagi pertemuan seprti itu yang menghasilkan pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia. Tujuan dari gerakan tersebut adalah:

1)      Mencapai persatuan yang kompak di antara seluruh golongan masyarakat Indonesia.

2)      Menanamkan semangat menanam,kan semangat revolusioner massa atas dasar kesadaran mereka sebagai rakyat yang berdaulat

3)      Membentuk Negara kesatuan republic Indonesia

4)      Bahu-membahu bersama Jepang untuk mempersatukan Indonesia, Tetapi jika perlu gerakan tersebut bermaksud untuk mencapai kemerdekaan dengan kekuatannya sendiri.

 

c.       Pembentukan Gerakan Rakyat Baroe

Pada tanggal 2 Juli 1945 Letnan Jendral Y. Nagano membentuk suatu badan yang bernama Gerakan Rakyat Baroe yang bertujuan untuk mengobarkan semangat perang dan cinta terhadap tanah air. Organisasi ini terdiri dari 80 orang yang berasal dari Penduduk asli Indonesia, Orang Jepang, Golongan Cina, Golongan Arab dan peranakan Eropa. Tujuan pemerintah jepang mengangkat wakil-wakil dari golongan mudadi dalam organisasi tersebut adalah untuk bias mengawasi kegiatan-kegiatan mereka. Mayor Jendral Nishimura menegaskan bahwa setip pemuda yang tergabung dalam organisasi tersebut harus tunduk kepada pemerintahan militer Jepang dan bekerja di bawah pengawasan Jepang. Oleh karena itu ketika organisasi ini diresmikan pada tanggal 28 Juli 1945, tidak seorangpun pemuda radikal yang bersedia menduduki kursi yang telah disediakan.

 

3.     Pembentukan PPKI

 

Pada tangga 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan. Sehingga gantinya pemerintah jepang membentuk PPKI (Paniti Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Jumbi Inkai. PPKI terdiri dari 21 orang anggota, yaitu 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 wakil dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, 1 wakil dari Sunda kecil (Nusa Tenggara), 1 wakil dari Maluku, 1 wakil dari golongan Cina. Yang diangkat jadi katua adalah Ir. Soekarno, wakilnya Moh. Hatta danPenasihatnya Mr. Ahmad Soebardjo. Sehingga pada tanggal 9 Agustus 1945 jendral Teraucci memanggl Ir. Soekarno, Moh Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat ke Dalat, Vietnam dan pada tanggal 12 Agustus 1945Jendral Teraucci menyampaikan kepada tiga tokoh tersebut bahwa Pemerintahan Kemaharajaan Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia segera seelah persiapnnya selesai oleh PPKI dan wilayah Indonesia meliputi bekas wilayah Hindia Belanda.

 

4.      Peristiwa Rengasdengklok

Sepulangnya Ir. Soekarno dari Dalat, para pemuda lewat radio telah mendengarkan berita bahwa Jepang telah mengalami kekalahan. Pada malam harinya Sutan Syahrir memberitahukan kepada Hatta dan Moh Hatta berjanji akan menanyakannya kepada Gunseikanbu. Setelah yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu, Moh Hatta mengambil keputusan untuk segera mengundang anggota PPKI.

Sehubungan dengan hal itu para pemuda/golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus jam 20.30 waktu jawa dan dipimpin oleh Chaerul Saleh. Dari rapat tersebut diambil keputusan “Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan pada orang lain dan Negara lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan adanya perundingan dengan golongan muda agar mereka diikutserakan dalam pernyataan proklamasi”.

Pada jam 22.30 Wikana dan Darwis menyampaikan keputusan rapat tersebut kepa Ir. Soekarno di rumahnya Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Namun pada saat itu terjadi ketegangan antara golongan muda dan golongan tua karena golongan tua tetap tidak mau menyataka proklamasi pada esok harinya dan ingin membicarakan dahulu proklamasi Indonesia dengan para anggota PPKI. Pada jam 24.00 kedua utusan tersebut (Wikana dan Darwis) perghi meninggalkan rumah Ir. Soekarno dengan rasa kecewa, marah dan kesal. Menaggapi hal tersebut golongan muda kembali mengadakan rapat dini hari pada tanggal 16 Agustus 1945 di asrama Baperpi, Jl. Cikini 71, Jakarta. Dalam rapat tersebut diambil keputusan bahwa Ir. Soekarno dan Moh, Hatta harus disingkirkn keluar dari Jakarta untuk menghindarkannya dari segala pengaruh Jepang.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 jam 04.30 waktu Jawa sekelompok pemuda membawa Ir Soerkarno dan Moh Hatta keluar kota Jakarta, yaitu tempat Cudan (Kompi) tentara Peta di Rengasdengklok-Karawang dengan alasan bahwa keadaan di kota sedang genting sehingga keamanan Ir Soekarno dan Moh Hatta di dalam kota sangat dikhawatirkan. Sementara pada tanggal 16 Agustus 1945 para anggota PPKI yang diundang oleh Moh Hatta telah berkumpul di gedung Pejambon 2, para peserta rapat merasa heran karena yang mengundang mereka tidak ada, sehingga satu-satunya jalanm adalah bertanya keberadaan mereka kepada Wikana yang pada malam sebelumnya telah bersitegang dengan Soekarno-Hatta. Selanjutnya terjadi perbincangan antara Ahmad Soebardjo dan Wikana dan dari perbincangan tersebut menghasilkan kesepakatan bahawa proklamasi harus dilakukan di Jakarta. Karena adanya kesepakatan tersebut Ahmad Soebardjo diantarakan ke Rengasdengklok dan tiba pada jam 18.00 waktu Jawa. Selanjutnya ahmad soebardjo memberikan jaminan bahwa proklamasi kemerdekaan akan diadakan besok paling lambat jam 12.00 waktu Jawa, sehingga dengan demikian Soekarno-Hatta dilepaskan untuk kembali ke Jakarta.

 

5.      Perumusan Teks Proklamasi

Pada pukul 23.30 waktu Jawa, mereka menuju kerumah Laksamana Tadashi Maeda di Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta. Hal ini disebabkan karena Laksamana Maeda telah berjanji bahwa ia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Sebelum mereka mulai merumuskan naskah proklamasi, terlebih dahulu mereka menemui Mayor Jendral Nishimura, untuk menjajaki sikapnya mengenai proklamasi kemerdekaan, namun Nishimura menegaskan bahwa dilarang ada proklamasi ketika keadaan Vacum Off Power, bahkan kegiatan PPKI juga harus dihentikan dahulu.

Lalu mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda dan mulai merumuskan naskah proklamasi, kalimat pertama dari naskah proklamasi dalah hasil dari saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan BPUPKI dan kalimat terakhir merupakan hasil pemikiran dari Moh. Hatta. Pada pukul 04.30waktu Jawa konsep naskah proklamasi sudah beres disusun. Selanjutnya mereka menuju serambi untuk menemui para hadirin yang menunggu dan Soekarno mulai membacakan naskah proklamasi yng masih konsep serta meminta yang ada disana untuk menandatangani naskah proklamasi tersebut, tetapi usulan tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh pemuda karena mereka beranggapan bahwa sebagian tokoh tua yang hadir adalah bodak-budak Jepang, selanjutnya Sukarni salah satu dari golongan muda mengusulkan naskah proklamsi tersebut hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Moh Hatta atas nama Rakyat Indonesia.

Setelah usulan Sukarni disetujui, Soekarno menyuruh Sayuti Melik mengetik naskah tersebut dengan disertai tiga perubahan yaitu, kata “Tempoh” menjadi “Tempo”, kata “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, Djakarta, 17-08-1945” menjadi Djakarta, Hari 17 boelan 8 tahoen 45”. Sukarni mengusulkan bahwa pembacaan naskah proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada, tetapi hal tersebut ditolak karena lapangan ikada adalah tempat umum jadi dikhawatirkan terjadbentrokan fisik dengan pihak militer Jepang. Oleh karena itu Soekarno mengusulkan bahwa pembacaan naskah proklamasi dilaksanakan dirumahnya Jl. Pegangsaan Timur no. 56 dan disetujui oleh para hadirin.

 

6.      Pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan

Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 05.00 waktu Jawa, para pemimpin Indonesia dari golongan tua dan golongan muda meninggalkan rumah Laksamana Maeda, dan pada pukul 10.30 Moh. Hatta berpesan kedapa para pemuda yang bekerja di kantor berita dan pers, terutama B.M. Diahuntuk memperbanyak teks proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Pada pagi itu rumah soekarno dipadati oleh sejumlah massa yang telah berbaris dengan tertib, untuk menjaga keamanan upacara pembacaan teks proklamasi maka dr. Mawardi sebagai kepala keamanan Soekarno meminta kepada Latief Hendaningrat untuk menugaskan anak buahnya berjaga-jaga disekitar rumah Soekarno, sedangkan wali kota Soewirjo memerintahkan kepada Wilopo untuk mempersiapkan pengeras suara. Sedangkan Soediro yang pada waktu it juga merangkap sebagai sekretaris Ir. Soekarno memerintahkan kepada S. Suhud (Komandan Pengawal Rumah Ir. Soekarno) untuk utuk menyiapkan sebuah tiang bendera.

Menjelang pukul 10.30 para pemimpin bangsa telah berdatangan ke Jl. Pegangsaan Timur, dan adapun susunan acara yang telah dipersiapkan adalah sebagai berikut:

1)      Pembacaan Proklamasi

2)      Pengibaran Bendera Merah Putih

3)      Sambutan Walikota Soewirdjo dan dr. Mawardi.

Contact

Search site

© 2010 All rights reserved.

Make a free websiteWebnode